Gerakan Literasi Sains (GERATIS)

Membaca merupakan hal yang sering ditekankan orangtua dan guru kepada anak-anak sejak usia dini. Minat dan kebiasaan membaca ini merupakan embrio dari terbentuknya masyarakat membaca (reading society) yang merupakan ciri dari masyarakat belajar (learning society) yang diperlukan dalam masyarakat berpengetahuan (knowledge society). Namun di tengah gencarnya budaya elektronik, anak-anak di era sekarang ini mempunyai „pilihan‟ objek lain yang masing-masing menawarkan daya tariknya, seperti televisi dan alat permainan elektronik. Seperti klasiknya kemajuan teknologi lainnya yang ada, selalu mempunyai negative side effect yang sering „dituduh‟ sebagai satu-satunya tersangka utama oleh para guru dan orantua menjadi penyebab memudarnya minat baca dan belajar anak-anak. Padahal, salah satu penyebab kualitas pendidikan bangsa Indonesia masih belum bisa berkompetisi adalah karena minat baca para siswa masih rendah, karena sarana baca di sekolah sangat kurang.


Ketersediaan bacaan yang menarik siswa masih langka dan keterbacaan bahan bacaan masih rendah. Kondisi tersebut juga diperparah oleh kebijakan pemerintah dimana pembangunan perpustakaan dan pusat sumber belajar masih dipandang sebagai pengeluaran dana belaka, bukan pemberi keuntungan yang dapat memberdayakan dan menyejahterakan masyarakat. Dengan munculnya kebijakan pemangkasan anggaran untuk pengadaan program pendukung untuk literasi atau keaksaraan ini, penambahan jumlah taman bacaan masyarakat jadi berkurang hingga separuh dari yang direncanakan. Sampai saat ini, mayoritas masyarakat masih belum memiiki fasilitas perpustakaan.

Padahal anak-anak yang gemar membaca akan memiliki rasa percaya diri yang kuat. Itulah pentingnya perpustakaan sekolah dan mampu membangkitkan kegairahan anak-anak sekolah rajin membaca buku-buku. Bila anak-anak sudah bisa merasakan betapa asyiknya menikmati buku-buku bacaan yang disukai, sesekali pasti ia tetap akan memilii kegemaran membaca. Jika tak mampu membeli buku, mungkin akan tetap berupaya mencarinya keperpustakaan–keperpustakaan. Kondisi ini diperburuk dengan semakin tidak pedulinya orang tua akan aktivitas membaca. Semakin banyak keluarga yang kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah yang harus berangkat ketika anak masih tidur dan pulang ketika anak sudah tidur. Mereka tidak lagi mempunyai cukup waktu dan energi untuk mendekatkan anaknya dengan buku, lewat mendongeng misalnya. Keadaan tersebut menjadi corak baru tradisi lisan (new kind of orality), atau dalam istilah Ignas Kleden, kelisanan sekunder (secondary orality). Dalam tradisi baru lisan atau kelisanan sekunder ini kemampuan baca dan tulis tidak begitu dibutuhkan lagi, karena sumber informasi lebih bersifat audio-visual.

Ketidak pedulian kita akan aktivitas membaca sebagai implementasi dari keberadaan aksara tidak lepas dari kondisi masyarakat kita yang bergerak melompat dari keadaan praliterer ke dalam masa pascaliterer, tanpa melalui masa literer. Artinya dari kondisi masyarakat yang tidak pernah membaca akibat tidak terbiasa dengan budaya menulis (terbiasa dengan budaya lisan) ke dalam bentuk masyarakat yang tidak hendak membaca seiring masuknya teknologi telekomunikasi, informatika, dan broadcasting. Akibatnya, masyarakat kita lebih senang nonton televisi daripada membaca.

Nonton Video Kegiatan Gerakan Literasi Sains disini.

Bagikan Kegiatan Mahasiswa ini

Kegiatan Mahasiswa Lainnya