Oleh: Nasri Diana

Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Laboratorium untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Gerak Lurus Berubah Beraturan di SMA


Belajar adalah serangkaian kegiatan dan jiwa untuk mendapatkan perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungan yang melibatkan kognitif, afektif, dan psikomotorik (Djamarah, 1999). Slamento (2010) menjelaskan belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu pengetahuan tingkah laku yang baru, secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamannya sendiri. Rusman (2015:12) juga menjelaskan bahwa belajar adalah salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.

Fisika (bahasa Yunani :φυσικός (fysikós), "alamiah", dan φύσις (fýsis), "alam") adalah sains atau ilmu alam yang mempelajari materi beserta gerak dan perilakunya dalam lingkup ruang dan waktu, bersamaan dengan konsep yang berkaitan seperti energy dan gaya (Wikipedia).Hakikat mempelajari fisika adalah membahas, mengkaji, dan membuktikan adanya fakta dan asumsi tentang gejala-gejala fisika. Tujuan pembelajaran fisika di SLTP atau SMU secara umum yaitu memberikan bekal pengetahuan tentang fisika, kemampuan dalam ketrampilan proses serta meningkatkan kreatifitas dan sikap ilmiah (Bektiarso, 2000 : 11).

Sarana seperti peralatan demonstrasi, praktikum, eksperimen, atau peralatan laboratorium yang lain diperlukan dalam menunjang pembelajaran fisika. Menurut Newble dan Cannon (1989) dikutip Maryunis (2000) untuk laboratorium fisika ada tiga macam kegiatan yang dapat dilakukan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai yaitu : latihan terkontrol, tujuannnya membantu siswa mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar. Penyelidikan eksperimental, bertujuan menstimulasi siswa agar mengenal dan mencoba melakukan proses kegiatan ilmiah. Dan proyek penelitian yang merupakan kegiatan yang dirancang untuk memberi bekal pengetahuan kepada siswa mengenai penelitian yang kegiatnnya banyak berbeda dengan latihan atau eksperimen terkontrol.

Dalam proses pembelajaran banyak komponen yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain: tujuan, bahan atau materi yang dipelajari, strategi pembelajaran, siswa dan guru sebagai objek pembelajaran, media pembelajaran dan penunjang proses pembelajaran (Praptiwi, dkk., 2012).Komponen-komponen tersebut saling terkait satu sama lain sehingga melemahnya satu komponen akan menghambat pencapaian tujuan pembelajaran secara maksimal. Pandangan lain tentang pembelajaran dengan pendekatan inkuiri yaitu dapat melibatkan siswa secara aktif menggunakan proses sains dan kecakupan ilmiah dan kreatif seperti menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan (Kristianti, 2012).

Laboratorium sekolah sejatinya adalah unit penunjang akademik yang digunakan sebagai tempat pengujian, kalibrasi, dan produksi berdasarkan metode keilmuan tertentu dalam rangka melaksanakan pendidikan (Putri, dkk., 2013).Penelitian yang dilakukan Tarno (2010) menyimpulkan bahwa prestasi belajar yang menggunakan laboratorium riil lebih tinggi dibandingkan daripada menggunakan laboratorium virtual.Menurut Khan (2011) bahwa ada perbedaan yang signifikan antara siswa yang diberi pembelajaran dengan menggunakan inkuiri dibandingkan dengan menggunakan cara tradisional.

Penelitian yang dilakukan oleh Sudarmi (2009) menghasilkan kesimpulan prestasi belajar siswa dengan pembelajaran inkuiri terbimbing dengan media laboratorium riil lebih tinggi dengan menggunakan laboratorium virtual tetapi prestasi belajar antara siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik tidak berbeda dengan siswa yang memiliki gaya belajar visual.Penelitian Iswari (2009) menghasilkan kesimpulan prestasi belajar menggunakan media laboratorium riil lebih tinggi dibandingkan dengan laboratorium virtual dan siswa yang memiliki sikap ilmiah tinggi, prestasi belajarnya juga lebih tinggi daripada siswa yang memiliki sikap ilmiah rendah.

Penelitian yang dilakukan oleh Sesen dan Tarhan (2013) yang bertujuan untuk menyelidiki efek pembelajaran praktikum berbasis inkuiri terhadap pemahaman konsep elektrokimia siswa SMA dan sikap terhadap kimia dan kerja di laboratorium, hasilnya pemahaman konsep siswa meningkat dan sikap terhadap kerja di laboratorium positif.Penelitian Dewi dkk (2013) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan sikap ilmiah dan hasil belajar siswa antara kelompok model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok model konvensional.Penerapan model pembelajaran inkuiri sangat berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme yang berkembang atas dasar psikologi perkembangan kognitif dari Jean Piaget dan teori scaffolding (penyediaan dukungan untuk belajar dan memecahkan masalah) dari Lev Vygotsky (Dahar, 2011).

Perbandingan motivasi belajar fisika peserta didik diajarkan melalui alat peraga dan alat laboratorium yang diteliti oleh Nanda, dkk.(2017), menggunakan metodekuasi-eksperimen pretest/posttest.Pengumpulan data diambil menggunakan angket, dengan jumlah pernyataan sebanyak 20 butir.Berdasarkan hasil analisis data terdapat perbedaan motivasi belajar peserta didik kelas yang menggunakan alat peraga dengan alat laboratorium.

Inkuiri adalah suatuproses pembelajaran yang menekankan pada aktivitas merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang desain percobaan atau investigasi, mengumpulkan data dan mengkomunikasikan hasil percobaan atau investigasi (Grumbine, 2010).Penelitian sebelumnya oleh Rahmiati (2015) pembelajaran berbasis inkuiri dengan aktivitas laboratorium untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa SMP menggunakan metode eksperimen semu dengan desain the group pretest-posttest. Teknik pengolahan data melalui validitas, reliabilitas, uji normalitas dan homogenitas, uji N-gain, serta uji-t dua pihak dengan bantuan program Anavest V.4 for Windows, IBM SPSS Statistics 22, dan Microsoft office excel.

Nuada (2015) mengungkapkan bahwa melalui kegiatan praktikum maka siswa akan melakukan kerja ilmiah sehingga dapat mengembangkan kemampuan menemukan masalah, membuat hipotesis, merancang penelitian, atau percobaan, mengontrol variable, melakukan pengukuran, mengorganisasi, dan memaknai data, membuat kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil penelitian atau percobaan baik secara lisan maupun tertulis.

Karyatin (2013), penelitian dilakukan mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran inkuiri terbimbing melalui kegiatan di laboratorium untuk meningkatkan keterampilan proses dan hasil belajar kognitif IPA (biologi) siswa. Deskripsi keterlaksanaan pembelajaran diperoleh dari masalah-masalah yang dihadapi di kelas.Pendekatan penelitian adalah penelitian kualitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes hasil belajar, dokumentasi dan catatan lapangan.

Implementasi strategi pembelajaran inkuiri untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPA olehAdi Winantodan Darma Amkahube (2016) yang strategi pembelajaran inkuirimeliputi langkah-langkah: (1) orientasi, (2) merumuskan masalah, (3) merumuskan hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5) menguji hipotesis, (6) merumuskan kesimpulan.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti bermaksud untuk meneliti bagaimanakah perbedaan peningkatan proses sains dan hasil belajar siswa antara model pembelajaran inkuiri terbimbing berbasis laboratorium dengan model konvensional yang selama ini dominan dilakukan di sekolah tempat penelitian. Maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Berbasis Laboratorium untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Gerak Lurus Berubah Beraturan Di SMA N 1 Banda Aceh”

Bagikan Kegiatan Mahasiswa ini

Kegiatan Mahasiswa Lainnya